Suhendri Mr Vs Ema Kurnia

BERITA POPULER

FACEBOOK GISA FM


close
cbox
Diberdayakan oleh Blogger.

kbr68h.com

Rabu, 28 Maret 2012

Makam Cut Nyak Meutia Kurang Tak Terawarat


“Rencananya Dipugar”

ACEH UTARA- Makam Cut Nyak Meutia yang berada Gampong Leubok Tilam, Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara, selama ini kurang tersentuh perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah Aceh.

Namun, jika dibandingkan pemugaran dengan makam-makan para pahlawan lainnya di luar Aceh, jauh tertinggal Makam Cut Nyak Meutia. Seharusnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara dan Pemerintah Aceh serta Pemerintah Pusat, dapat membangun makam selayak mungkin.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Utara, Drs. Ishak Ali Basyah, S.Pd, saat dikonfirmasi Rakyat Aceh, kemarin, mengatakan, kedepan pihaknya akan terus berupaya untuk melakukan pemugaran terhadap Komplek dan Makam Cut Nyak Meutia. “ Kita juga sudah mengirimkan surat Bupati Aceh Utara, yang ditujukan kepada Gubernur Aceh, untuk permohonan pembangunan/pemugaran Makam Cut Nyak Meutia,”ucap Ishak Ali Basyah.

Sebut dia, berdasarkan hasil seminar Raya Menyosong 100 tahun Syahidnya Cut Nyak Meutia, merekomendasikan beberapa hal diantaranya, melakukan pemugaran dan pembangunan serta penataan Komplek Makam Cut Nyak Meutia yang berlokasi di hulu sungai Peuto, Kecamatan Cot Girek Aceh Utara.

Dimana, Pemkab Aceh Utara pada tahun 2007 dan 2008 telah membuka akses menuju ke Komplek Makam Cut Nyak Meutia, dengan pengerasan jalan dan pembangunan jembatan penghubung. “Seiring dengan itu, kami sudah membuat design /RAB melalui jasa konsultasi perencanaan yang merupakan tindak lanjut dari hasil seminar tersebut. Jadi ada beberapa atiem yang harus dibangun, seperti, bangunan Makam Cut Nyak Meutia yang layak, Bangunan Seuramoe Cut Nyak Meutia, Bangun Tangga menuju makan dan talud serta membangun MCK,”imbuhnya.

Lanjut dia, total dana yang diusulkan untuk membangun empat atiem tersebut mencapai Rp 816.800.000. Namun, itu semua sangat tergantung kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh, untuk mengwujudkan rencana pemugaran Makam Cut Nyak Meutia, di Kabupaten Aceh Utara, dalam tahun 2010 ini. (arm)
Baca Selengkapnya....!!

Gubernur Aceh Akan Buka Event Sepeda Wisata 2009

ACEH UTARA- Gubernur Aceh, Drh. Irwandi Yusuf, direncanakan akan membuka secara resmi even sepeda wisata tahun 2009, dilapangan bola kaki Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, Sabtu (24/10) mendatang.

Sementara peserta yang akan mengikuti even tersebut, ditargetkan berjumlah 800 peserta, terdiri peserta dari Kabupaten/Kota Se- Provinsi Aceh, 69 orang, siswa sekolah di Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, 400 orang, pegawai negeri sipil (PNS) 200 orang dan masyarakat luas 131 orang.

Kegiatan itu diselenggarakan oleh Pemerintah Aceh, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara serta Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabutpar).

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabutpar) Aceh Utara, Ishak Alibasyah,S.Pd, saat dikonfirmasi Rakyat Aceh, kemarin.Dia mengatakan, wisata sepeda merupakan, tindakan stategis yang dilatar belakangi oleh suatu keinginan Pemerintah dan masyarakat, untuk memperkenalkan objek wisata budaya dan religius Aceh Utara kepada masyarakat luas. Apalagi, keberadaan objek ini merupakan sisi peningkatan pendapatan masyarakat serta pelestarian sejarah kejayaan Islam di Asia Tenggara Abad XIII silam.

“Jadi star sepeda wisata ini akan dimulai dari lapangan bola kaki, Kecamatan Syamtalira Bayu, dan finisnya di depan Makam Sulthan Malikussaleh, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, dengan jarak tempuh perjalanan antara 5 hingga 6 kilometer,”ucap Ishak Alibasyah.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Drs. H. Mirzan Fuadi, MM, saat dikonfirmasi wartawan koran ini, juga mengatakan, kegiatan even sepeda wisata baru yang pertama kali diselenggarakan di Provinsi Aceh. Bahkan, kegiatan itu juga merupakan program daripada Gubernur Aceh, untuk memperkenalkan tentang budaya dan sejarah kejayaan Islam di Asia Tenggara.

“Untuk tahun ini acara tersebut, kita pusatkan di Kabupaten Aceh Utara sebagai tuan rumah yang diikuti oleh Kabupaten/Kota lainnya di Provinsi Aceh. Semoga even sepeda wisata dapat berlangsung dengan lancar tanpa adanya kendala yang berarti nantinya,”ungkap Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

Disisi lain, Kepala Disporabutpar Aceh Utara, Ishak Alibasyah,S.Pd, pagi kemarin, juga menyerahkan satu unit sepeda kepada Danrem 011/Lilawangsa Lhokseumawe, Kolonel Inf. Bachtiar S.IP beserta 100 buah baju peserta untuk ikut tampil dalam even sepeda wisata tahun 2009. (arm)
Baca Selengkapnya....!!

Santri Aceh Adakan Haul ke-4 Rassa di Aceh Barat

LHOKSEUMAWE - Ratusan ulama beserta santri dayah dari seluruh Aceh, dijadwalkan akan hadir pada peringatan ulang tahun (haul) ke-4 Rabithah Silaturrahmi Santri se Aceh (Rassa), di Dayah Darul Hikmah Gampong Peunaga Rayeuk, Kecamatan Meurbo Aceh Barat, Sabtu (29/1) mendatang. Kegiatan itu akan dirangkai dengan “Kajian Islam Tingkat Tinggi Ulama ban Sigom Aceh.”

Hal itu diungkap Ketua Umum Rabithah Silaturrahmi Santri se Aceh (Rassa) Tgk H Zulkifli Juned, kepada Serambi di Lhokseumawe, Sabtu (22/1). Tgk Zulkifli  menyebutkan, dalam muzakarah yang akan dihadiri sejumlah terkemuka Aceh itu, Abuya Prof Dr Tgk H Muhibuddin Waly dijadwalkan akan bertindak sebagai, dan Tgk H M Amin Blang Badeh (Abu Tumin) sebagai pembanding.

“Kami gelar pertemuan ini dengan tujuan mempersatukan santri dayah dan mengadakan pertemuan Ulama di seluruh Aceh, tidak ada unsur politik dalam pilkada,” ujar Zulkifli yang diiyakan Tgk H Hasballah Ali (Abu Dikeutapang) dan Tgk H Ramli Bin Cut (Abati Babah Buloh).

Surat undangan panitia, tambah Tgk Zulkifli, telah disebarluaskan ke seluruh  Aceh sejak dua pekan lalu. Bahkan, sejumlah dayah di beberapa kabupaten/kota telah memberikan jumlah santri yang hadir. “Sesuai data yang telah diterima, sekitar 15 ribu santri seluruh Aceh, sudah memberikan jawaban akan hadir. Aceh Utara saja sudah ada 200 mobil akan berangkat ke Aceh Barat,” ujarnya.

Muzakarah Ulama dalam kesempatan Haul IV Rassa juga dijadwalkan akan dihadiri Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, serta sejumlah pejabat lainnya. “Diharapkan kepada seluruh masyarakat Aceh dapat memberikan doa agar Haul ke-4 Rassa berjalan lancar,” ungkap Tgk Zulkifli Juned.

Sementara itu, Tgk H Ramli Bin Cut (Abati Babah Buloh) dan Abu di Keutapang, menegaskan bahwa Haul ke-4 Rassa ini tidak ada kaitan dengan pemilukada. Ia memastikan panitia tidak menyebarkan undangan atasnama tokoh politik mau pun partai politik. Karenanya, kedua ulama kharismatik Aceh Utara ini meminta para tokoh yang hadir nantinya ke lokasi acara, tidak membawa-bawa masalah politik. “Jangan coba-coba menggiring santri ke pentas politik,” tegas Abati.(ib)
Baca Selengkapnya....!!

Abu Cot Kuta

Tgk. Abu bakar bin Muhammad Ali lahir di desa Babah Buloh. Tahun kelahiran beliau tidak diketahui secara pasti, tapi menurut perkiraan beliau lahir dipenghujung abad 19. Ayah beliau berasal dari Meunasah Paloh wilayah Zelfbestuur Keureuto, sekarang berada di kecamatan Tanah pasir kabupaten Aceh Utara,
Sebagai seorang pandai besi ayah beliau biasa disapa Utoh Ali dan sering berkeliling ke berbagai daerah untuk menjual hasil kerajinannya. Seringnya beliau berjualan di Krueng Mane yang pada waktu itu masih berada di bawah Zelfbestuur Sawang, sehingga beliau berkenalan dengan Ampon Lutan (Ulee Balang Krueng Mane).
Dalam satu dialoq Ampon Lutan berkata “anda jangan lagi berjualan kesini”, Utoh Ali bertanya: “apakah tidak boleh saya berjualan di negri tuan?” Ampon Lutan menjawab: “bukan tidak boleh, tapi tinggal disini saja”, Utoh Ali berkata: “asal ada tempat yang cocok, saya mau menetap dinegri tuan”. Maka Ampon Lutan meminta kepada adiknya yaitu Ampon Ubit untuk mencarikan tanah untuk tempat menetap Utoh Ali. Ampon Ubit pun memanggil petua Gampong Teungoh untuk menempatkan Utoh Ali di Cot Kuta yaitu nama sebuah gundukan tanah di desa Babah Buloh wilayah Sawang. Kemudian hijrahlah Utoh Ali ke Cot Kuta. Utoh Ali mempunyai dua orang istri, dari istri yang pertama yang berasal dari Cot Jabet - Gandapura dianugerahi tiga orang anak:1. Tgk Abu Bakar (Abu Cot Kuta)
2. Tgk Majid
3. Cut Aisyah
dari istri yang kedua juga dianugerahi tiga orang anak:
1. Tgk Syamaun
2. Cut Hawiyah
3. Tgk. M. Yusuf

Tgk Abubakar kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, sehingga beliau bersekolah Cuma seperdua masa belajar murid yang lain. Beliau bersekolah enam bulan kemudian diliburkan selama enam bulan, karena beliau sudah menguasai seluruh materi pelajaran dalam waktu singkat. Setelah tamat volkschool di Krueng Mane beliau mengaji ke dayah Tgk Ahmad Pulo Reudeup (Tgk di Lampoh, meninggal Nofember 1982) di Peusangan. Setelah merasa cukup mengecap pendidikan Dayah, beliau menikah dengan seorang gadis di daerahnya. Tapi setelah melahirkan seorang putra disaat umur bayi baru 15 hari sang istripun berpulang ke rahmatillah, bayi tersebut diberi nama Tgk Hasan (lahir Rabu 4 Syakban 1349H / 24 Desember 1930) dan dititipkan kepada adik beliau Cut Hawiyah. Kemahiran beliau dalam mengarang syair merupakan alasan mengapa beliau sering menjadi syekh kesenian tradisional Meuseukat (sejenis Rapa-i geleng), hal tersebut membuat ayah beliau marah, sehingga Utoh Ali mengancam anaknya untuk mengaji lagi hingga Alim, kalau tidak alim tidak boleh pulang. Maka merantaulah Tgk Abubakar ke Samalanga untuk mengaji di dayah Tgk Idris Tanjongan (kakek buyut dari Tu Subhiah, istri ayah Cot Trueng), beliau menetap di Samalanga 17 Rabiul Akhir 1350 / 1 September 1931. Pada waktu itu Tgk Idris sudah uzur, sehingga Tgk Abubakar cuma membacakan kitab sedangkan Tgk Idris menyimaknya dipembaringan. Karena Tgk Abubakar sudah pernah mengaji sebelum ke Samalanga maka secara otomatis beliau menjadi guru pembantu (teungku rangkang) bagi gurunya. Setelah beberapa lama beliau menjadi teungku rangkang beliaupun mempersunting Cut Saudah binti Sabi (meninggal 13 Juni 1986) di Samalanga, dari perkawinan tersebut beliau memperoleh tiga orang anak:

1. Cut Habsah ( lahir Minggu 4 Ramadhan 1352 / 21 Desember 1933 di Samalanga merupakan ibunda dari Tgk H M Amin bin M. Daud “Ayah Cot Trueng”)
2. Tgk Husein ( lahir Senin 10 Jumadil Akhir 1354 / 8 September 1935 di Cot Seurani - Krueng Mane, sempat mengaji ke Krueng Kalee Aceh Besar dan ke Jaho Sumatra Barat, meninggal 24 Rabiul Akhir 1374 / 21 Desember 1954)
3. Cut Halimah ( lahir Sabtu 4 Jumadil Akhir 1360 / 29 Juni 1941 di Cot Seurani - Krueng Mane, meninggal Oktober 2001)

Ampon Lutan ingin menempatkan seorang qadhi yang “cakap” di Krueng Mane, beliau bermusyawarah dengan adiknya yaitu Ampon Ubit mengenai siapa yang akan di jadikan sebagai qadhi. Maka Ampon Ubit mengusulkan untuk menjemput Tgk Abubakar di Samalanga. Maka Ampon Lutan menemui Ampon Chik Samalanga untuk meminta izin menjemput Tgk Abubakar yang sudah menjadi ulama di Samalanga, Ampon Chik di Samalanga pun mengizinkannya. Untuk membuktikan kepiawan Tgk Abubakar sebagai seorang ulama maka Ampon Lutan mengadakan perdebatan agama antara Tgk Abubakar dengan ulama setempat, mungkin pada tahun 1934. setelah terbukti ke”cakapan” Tgk Abubakar, Ampon Lutan pun menempatkan Tgk Abubakar sebagai Qadhi di krueng Mane serta membuka dayah di mesjid Krueng Mane (sekarang mesjid tua Krueng Mane di Cot Seurani). Maka terkenallah sebuah dayah salafi di sekitar Lhokseumawe yang dikunjungi oleh santri dari berbagai daerah di Aceh. Menurut Prof Dr Mahmud Yunus dalam buku Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia halaman:176, dayah Tgk Abu Bakar Cot Kuta di Lhokseumawe merupakan salah satu dayah dizaman pembaharuan yang masyhur. Tapi walaupun berada dizaman pembaharuan Tgk Abubakar masih menganut sistim lama, yaitu mengaji dengan cara menamatkan kitab satu persatu tanpa mengenal kelas dan kurikulum yang teratur sebagaimana sekarang. Sebagaimana adat di Aceh seorang ulama biasa dipanggil dengan “Abu” serta merangkaikan nama kampung dibelakang namanya, maka terkenallah beliau dengan Abu Cot Kuta. Murid beliau yang terkenal selama di Krueng Mane diantaranya Tgk Sulaiman (Abu Lhoksukon) dan Kiyai Hamid Paya Rabo.

Pemberontakan Tgk Abdul Jalil Cot Plieng Bayu terhadap Jepang membuat Jepang curiga terhadap dayah- dayah di Aceh dan melakukan sweeping sehingga banyak dayah yang sepi, begitu pula dayah Abu Cot Kuta. Pada suatu sweeping tentara Jepang pernah menanyakan “apakah kitab yang diajarkan oleh Abu Cot Plieng sama dengan yang diajarkan disini?” Abu Cot Kuta menjawab “tidak sama, yang diajarkan disana kitab kuning, sedangkan disini tidak seberapa kuning”. Kisah tragis peristiwa Perang Cumbok (1945 - 1946) yang berimbas kepada pembantaian para Uleebalang di kebanyakan daerah di Aceh, juga ikut menimpa Ampon Lutan membuat Abu Cot Kuta tidak betah lagi menetap di Krueng Manee. Maka atas inisiatif Tgk Yahya (pimpinan Dayah Nashrul Mutha’allimin Ie Rhot Ulee Madon, Muara Batu) meminta kepada pemuka-pemuka kemesjidan Cot Trueng untuk membujuk Abu Cot Kuta agar mau pindah ke mesjid Cot Trueng, gayungpun bersambut, Abu Cot Kuta menyanggupinya. Maka hijrahlah Abu Cot Kuta ke mesjid Cot Trueng pada tahun 1946, tapi beliau tidak mengizinkan dulu untuk mendirikan balai-balai sebagaimana layaknya sebuah dayah. Beliau Cuma mengajar di mesjid (sekarang “Mesjid Tuha” didirikan oleh Teungku Bentara Keumangan thn 1823 M) dan di balai bekas mesjid lama (sekarang “Balee Pusaka” didirikan tahun 1823 M), setelah beberapa bulan beliau menetap di Cot Trueng maka didirikanlah balai yang berkamar (sekarang Balee Puteh). Setelah situasi dianggap cocok maka pada tahun 1946 beliau meresmikan Dayah Raudhatul Ma’arif di mesjid Al-Akmal desa Cot Trueng kecamatan Muara Batu kabupaten Aceh Utara. Untuk ukuran masa tersebut jumlah murid yang mencapai 150 orang merupakan jumlah yang banyak, sehingga dayah Cot Trueng merupakan dayah yang maju dimasa itu. Diantara murid-murid beliau yang terkenal selama di Cot Trueng ialah Tgk Syafii Aron, Tgk M.Isa Peurupok dll.

Keterlibatan Abu Cot Kuta dalam dunia politik di mulai semenjak seruan Tgk M. Hasan (Abu Krueng Kalee) agar ulama dayah tergabung dalam PERTI (Persatuan Tarbiah Islam). Keaktifan beliau dalam PERTI sejak tahun 1957 hingga 1969, beliau merupakan ketua PERTI anak cabang (ranting) Muara Batu, sekaligus penasehat PERTI kabupaten.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”, Allah telah memanggil Abu Cot Kuta kehadiratnya pada hari Minggu 16 Nofember 1969 M / 6 Ramadhan 1389 H jam 11.00 pagi. Tidak ada yang tahu dengan pasti berapa umur beliau disaat meninggal, tapi menurut perkiraan orang tua di Cot Trueng usia beliau ketika itu sekitar 70 tahun atau bahkan mungkin lebih. Nama yang harum telah diukir oleh Abu Cot Kuta khususnya bagi masyarakat kecamatan Muara Batu karena semenjak tahun 30an hingga 1969 beliau merupakan lampu penerang umat sekaligus sebagai qadhi di kecamatan Muara Batu. Semoga arwah beliau selalu dalam limpahan rahmat Allah. Amien Ya Rabbal ‘Alamin.

Ditulis Oleh : Tgk Zulfahmi MR
Staff Pengajar Dayah Raudhatul Ma’arif Cot Trueng
Berdasarkan Wawancara Dengan Utoh Hasan Cot Trueng dan Tgk Abdul Jalil Glee Dagang (menantu Abu Cot Kuta).
Baca Selengkapnya....!!

TRANSLATE

SLIDESHOW

RADIO PATNER

TAMU ONLINE

CREW GISA FM

how to make an animated gif

STUDIO LUAR GISA FM

PHOTO EDP

About Me

Foto Saya
radio gisa fm aceh utara
Babah Buloh, Sawang Kab. Aceh Uta, Indonesia
Indah Dalam Sajian,Bermakna Dalam Ingatan
Lihat profil lengkapku

TAYANG WEB

internet statistics

free counters

FOLLOWERS