Suhendri Mr Vs Ema Kurnia

BERITA POPULER

FACEBOOK GISA FM


close
cbox
Diberdayakan oleh Blogger.

kbr68h.com

Jumat, 27 Juli 2012

18 Geuchik Tuntut Penetapan Ibukota Kecamatan

Lhokseumawe, (Analisa) Sebanyak 18 geuchik (kepala desa) di Sawang Utara, Kabupaten Aceh Utara, Selasa (24/7) mendatangi kantor bupati untuk beraudiensi sekaligua menyampaikan aspirasi terkait penetapan ibukota kecamatan. Mereka menyatakan mendukung Gampong Teungoh ditetapkan sebagai ibukota Kecamatan Lamkuta pada pemekaran yang direncanakan berlangsung tahun ini.

Kedatangan para geuchik bersama tuha peut dan ketua pemuda itu diterima Asisten I Bidang Pemerintahan Setdakab Aceh Utara, Drs T Mustafa MM, Kabag Pemerintahan, Drs Murtala MSi, dan didampingi Sekcam Sawang, Abdullah, di Aula Kantor Bupati Aceh Utara.

Para geuchik ini dengan tegas meminta supaya Gampong Teungoh menjadi ibukota kecamatan pemekaran dari Kecamatan Sawang. Mereka menyerahkan bukti dukungan tertulis yang ditandatangani para perangkat desa masing-masing.

Pernyataan dukungan itu diterima Kabag Pemerintahan, Murtala, untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam penetapan ibukota kecamatan.

Dukungan atas Gampong Teungih itu, menurut sejumlah kepala desa, karena desa ini sudah cukup representatif untuk menjadi ibukota kecamatan.

Di antaranya, aktivitas perekonomiannya cukup tinggi. Selain itu, beberapa infrastruktur lain juga cukup mendukung seperti keberadaan sekolah dari berbagai jenjang pendidikan, pesantren, sarana kesehatan, sarana ibadah dan sebagainya.

Asisten I Bidang Pemerintahan, Murtala, berjanji menyampaikan aspirasi ini kepada Bupati Aceh Utara agar menjadi pertimbangan dalam penetapan ibukota kecamatan itu.

Dia juga sempat menawarkan untuk menyampaikan surat pengajuan pemekaran kecamatan itu kepada Gubernur Aceh untuk diajukan ke Mendagri karena waktunya yang sudah mendesak.

Namun, tawaran ini ditolak para kepala desa. Mereka khawatir bila keputusan Mendagri sudah terbit, maka yang diperjuangkan saat ini sia-sia.

Kabag Pemerintahan, Murtala, menambahkan, tahun ini Aceh Utara memekarkan empat kecamatan yakni Kuta Piadan di Kecamatan Seunedon, Peutoe, Kecamatan Lhoksukon, Buloh Beureughang, di Kecamatan Kuta Makmur dan Lamkuta, Sawang.

Penetapan penentuan ibukota kecamatan menjadi keputusan masyarakat di tingkat desa karena pemekaran merupakan milik masyarakat.

Sementara, Anggota DPRK Aceh Utara, Tantawi, meminta eksekutif mengambil keputusan yang adil untuk menghindari hal-hal tidak diinginkan nantinya.

"Saya berharap eksekutif tidak salah mengambil kebijakan," sebutnya. (kdn)
Baca Selengkapnya....!!
Senin, 07 Mei 2012

Rumitnya Pengurusan Izin Radio Komunitas

Komunitas untuk Demokrasi (JRK Dem) bersama Aliansi Jurnalis Independen Surabaya dan LBH Pers Surabaya segera melayangkan gugatan uji materi terhadap undang-undang tentang penyiaran ke Mahkamah Konstitusi.

Dalam gugatan antara lain dipersoalkan Pasal 21 undang-undang tersebut yang mengatur jarak jangkau radio komunitas dan low frekuensi. "Saat ini kami mulai mengumpulkan materi gugatan, menjaring dukungan, dan kekuatan dari berbagai pihak,” kata Ketua Presidium JRK-Dem Mochamad Hasyim, Minggu, 12 Februari 2012.

Menurut Hasyim, selama ini pelaku radio komunitas diperlakukan tidak adil. Mereka hanya dibatasi bersiaran dengan alat dengan kekuatan daya pancar maksimal 50 watt. Jarak jangkau siaran juga tidak boleh melebihi 2,5 kilometer. Padahal, dengan batasan seperti itu, radio komunitas yang ada di perkotaan tidak bisa melakukan siaran secara maksimal. "Kalau di puncak Gunung Bromo, dengan kekuatan seperti itu bisa menjangkau desa-desa di sekitar gunung. Tapi di Surabaya hanya menjangkau tetangga sebelah rumah. Warga satu RT pun tak bisa mengaksesnya," ujar Hasyim.

Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2005 yang merupakan peraturan pelaksana undang-undang penyiaran, menurut Hasyim, juga sangat membelenggu radio komunitas, terutama dalam hal perizinan.

Peneliti radio komunitas dari Universitas Airlangga Surabaya, Irfan Wahyudi, mengatakan, rumitnya pengurusan izin radio komunitas mengakibatkan mayoritas radio komunitas melakukan aktivitas penyiaran tanpa izin. "Ada yang sudah ngurus lebih dari 10 tahun, tetap saja gagal," ucap Irfan.

Irfan menjelaskan, sesuai ketentuan, izin radio penyiaran setidaknya harus menunjukkan 250 KTP anggota komunitas serta melakukan sertifikasi alat ke Kementerian Komunikasi dan Informatika. Selain itu, harus berbadan hukum komunitas serta membayar frekuensi.

Menurut Irfan, seluruh persyaratan tersebut mampu dipenuhi para pengelola radio komunitas. ”Jangankan hanya sebatas KTP, kalau perlu mereka sanggup membawa serta 250 anggotanya. Tapi pemerintah selalu mempersulit," tuturnya.

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur Maulana Arief membenarkan sulitnya pengurusan izin bagi radio komunitas. Adapun peran KPID hanya bertugas sebagai perantara untuk melanjutkan proses perizinan ke Kementerian Kominfo. "Yang juga rumit mengurus izin HO (izin gangguan). Pungutan biaya di tingkat kecamatan dan kabupaten sangat besar. Bahkan ada yang mengaku sudah habis Rp 20 juta, tapi izin HO belum turun," kata Maulana.

Direktur LBH Pers Surabaya Athoillah mengatakan, keruwetan ihwal radio komunitas memang tidak gampang untuk diurai. "Uji materi ke Mahkamah Konstitusi adalah langkah awal yang bisa ditempuh," kata Athoillah.

Sumber : TEMPO.CO
Baca Selengkapnya....!!

Dasar-Dasar Radio Komunitas: Peran dan Fungsi

Oleh Combine Resource Institution
Tujuan: Membangun pemahaman pengelola radio komunitas tentang berbagai peran dan fungsi yang telah dan dapat (berpeluang) dilakukan oleh suatu radio komunitas, sehingga para pengelola radio dapat membangun inspirasi bagi peran dan fungsi radio komunitasnya.1.    Pendahuluan
Radio, sebagai salah satu media informasi dan komunikasi, memiliki sejumlah peran dan fungsi yang umumnya dimiliki oleh media-media informasi dan komunikasi lainnya. Namun juga memiliki peran dan fungsi spesifik yang khas dimiliki oleh radio. Peran dan fungsi ini bukanlah sifat yang kaku/tetap ataupun secara langsung menyertainya, melainkan dapat berkembang dan dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi atau dengan masalah dan kebutuhan serta potensi yang ada. Artinya, peran dan fungsi radio, akan selalu terkait dengan situasi dan kondisi dimana radio tersebut beroperasi.
Peran didefinisikan berbeda terhadap fungsi. Peran berarti menjelaskan atau membedakan suatu posisi tertentu daripada posisi yang lain. Sedangkan fungsi adalah menjelaskan hal-hal yang dilakukan oleh posisi tersebut. Contoh : Peran dalam proses pembuatan film adalah : Produser, sutradara dan pemain. Peran seorang Produser berfungsi untuk membiayai pembuatan film. Peran seorang sutradara berfungsi untuk mengatur alur cerita dan pemeranan para aktor. Peran seorang aktor berfungsi menjalankan skenario.
2.    Peran dan Fungsi Radio.
Media informasi dan komunikasi adalah suatu peran yang dimiliki oleh radio. Fungsinya adalah untuk menyalurkan informasi dari sumbernya ke para penggunanya. Semua media informasi dan komunikasi memiliki fungsi yang mirip, yaitu mengumpulkan, mengolah dan menyebarkan informasi dan komukasi ke berbagai pihak dan lokasi. Namun dapat berperan sangat berbeda. Informasi yang telah tersebar dapat menimbulkan efek yang bermacam-macam. Artinya, dengan adanya kejadian (fungsi) informasi yang tersebar secara luas tersebut, maka akan dapat memunculkan beragam manfaat atau peran radio. Sebuah berita yang tersebar melalui radio dapat memberikan 2 efek yang berbeda; mendorong kekisruhan memicu konflik sosial ataukah sebaliknya menenangkan dan mendamaikan suasana. Ini adalah 2 peran yang sangat berbeda yang dipilih oleh suatu radio, melalui satu fungsi yang sama : penyebaran informasi.
Ragam peran radio yang telah dibangun oleh banyak pihak, antara lain:
a.    Peran Radio sebagai Media Perdamaian, menjalankan fungsi antara lain sebagai berikut:
  1. Meliput untuk berorientasi pada pencapaian “win-win solution” (sama sama menguntungkan).
  2. Berempati & menyuarakan semua pihak, melihat konflik sebagai masalah dan proaktif untuk pencegahan lanjutan serta fokus pada dampak yang tak terlihat
  3. Membeberkan ketidakbenaran dari semua sisi dan mengungkap yang ditutuptutupi.
  4. Fokus pada orang-orang yang membawa perdamaian serta menyoroti prakarsa-prakarsa perdamaian.
  5. Dll.
b.    Peran Radio sebagai Media Monitoring Pembangunan Partisipatif oleh Masyarakat, menjalankan fungsi antara lain sebagai berikut:
  1. Meliput pelaksanaan suatu proyek pembangunan.
  2. Mengumpulkan bahan/dokumen yang terkait dengan proyek pembangunan.
  3. Mengadakan diskusi baik on air maupun off air.
  4. Dll.
c.    Peran Radio sebagai Media Pendidikan, menjalankan fungsi antara lain sebagai berikut:
  1. Mengumpulkan bahan atau paket pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal.
  2. Menyiarkan paket-paket pendidikan tersebut.
  3. Mengadakan acara interaktif, tanya jawab atau diskusi, baik on air maupun off air.
  4. Dll.
d.    Peran Radio sebagai Media Informasi dan Komunikasi, menjalankan fungsi antara lain sebagai berikut:
  1. Melakukan reportase ke dalam komunitas.
  2. Mengumpulan bahan dari luar komunitas.
  3. Membacakan berita dan informasi dari pihak lain ke pihak sasaran yang dimaksud.
  4. Dll.
e.    Peran Radio sebagai Media Hiburan, dapat menjalankan fungsi antara lain sebagai berikut:
  1. Mengumpulkan lagu-lagu, dongeng, kuis dan paket hiburan lainnya.
  2. Menyiarkan paket paket hiburan tersebut.
  3. Mengadakan acara off air, seperti panggung musik.
  4. Dll.
3.    Penutup
Radio Komunitas, sebagai sebuah radio yang dibentuk dari, oleh, untuk dan tentang komunitas. Peran dan fungsi radio dapat berkembang dan dapat disesuaikan dengan tujuan, situasi dan kondisi atau dengan masalah dan kebutuhan serta potensi yang ada. Artinya, peran dan fungsi radio tersebut tidak bisa tidak, akan selalu terkait dengan situasi dan kondisi dimana radio tersebut berdiri. Peran sebuah radio dapat pula berganti dan secara kompleks (memerankan lebih dari satu peran sekaligus).
“Sekarang saya mengerti mengapa jurnalis harus meliput berita-berita di daerah konflik. Tujuannya adalah untuk memberisikan udara yang penuh dengan desas-desus dan spekulasi. Saya sudah tidak sabar lagi untuk pulang dan membuat cerita mengenai Pelagadong – pesta bersama antara pihak Muslim dan Kristen yang kita lakukan secara tutin di masa lalu. Mudah-mudahan hal in akan dapat menyatukan kembali masyarakat Ambon”.



FM Radio Stations In Aceh


Kota Sabang

* Pro FM - 99,9 MHz

Kota Banda Aceh

* Binkara FM - 89,4 MHz
* Serambi FM - 90,6 MHz
* Seulaweut FM - 91,0 MHz
* KISS FM - 91.8 MHz
* Three FM - 94,5 MHz
* Meugah FM - 95,3 MHz
* A-Radio FM - 96,1 MHz
* Baiturrahman FM - 98,5 MHz
* Toss FM - 99,3 MHz
* Kon FM - 101,2 MHz
* Antero FM - 101,6 MHz
* Fresh One FM - 102,8 MHz
* Jati FM - 103,6 MHz
* Prima FM - 104,4 MHz
* Flamboyan FM - 105,2 MHz
* Nikoya FM - 106,0 MHz
* SIS FM RADIO - 96,9 Mhz

Kabupaten Pidie - Sigli

* Askar FM - 101,2 MHz
* Katalina FM - 100,5 MHz
* Megaphone FM - 105,6 MHz
* Mutiara FM - 104,8 mhz

Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara

* RRI Pro-3, 89,9 MHz
* RRI Pro-2, 94,4 MHz
* RRI Pro-1, 99,0 MHz
* Vina Vira FM - 101,1 MHz
* Bujang Salim FM 101,5 MHz
* Istiqomah Arun FM - 102,7 MHz
* Adyemaja FM - 103,6 MHz
* Sapa FM 96.000 Mhz

Kabupaten Bireuen

* Getsu FM - 98,4 MHz
* DIRADJA FM - 97,6 Mhz
* Andyta FM - 105,1 MHz
* SONYA MANIS FM- 104,3 Mhz
* Bita Fm 99,2 FM

Kabupaten Aceh Tengah - Takengon

* Amanda FM - 104,0 MHz
* RRI Takengon FM - 93,0 Mhz

Kabupaten Aceh Jaya - Calang

* Rapeja FM - 101,0 MHz

Kabupaten Aceh Tenggara - Kutacane

* DB 99 FM - 99,0 MHz

Kabupaten Aceh Selatan - Tapaktuan

* SIT FM - 88,9 MHz
* Kofa FM - 90,5 MHz
* Gurita FM - 107.7 MHz

Kabupaten Aceh Barat - Meulaboh

* Matahari FM (Radio Komunitas) - 107,6 MHz
* Dalka FM - 101,2 MHz

- Langsa

* Global Radio - 99,4 MHz
* Gipsi FM - 106,1 MHz
Kabupaten Aceh Timur.
*Swara Cem Pala Kuneng(SCK FM)98,6 Mhz

Kabupaten Gayo Lues

* Telangke FM - 101,1 MHz
* 107,6 Mhz
*Swara Gayo FM - 99,7 Mhz

Kabupaten Aceh Singkil - Subulussalam

* Xtra FM - 104,8 MHz
* Citra Pesona FM - 104,0 MHz

Kabupaten Simeulue - Sinabang

* Smong FM - 98,70 MHz
*Pidie Jaya,Ulegle

*Aceh Tamiang
*Birama Fm - 103,7 Mhz

*RRI Banda Aceh
*PROGRAMA FREKUENSI LOKASI
Pro 1 FM 97,7 MHz Banda Aceh
MW 1251 KHz Indrapuri
Pro 2 FM 88,6 MHz Banda Aceh
Pro 3 FM 92,6 MHz Banda Aceh

Pemancar Relay Pro 1 FM 94,0 MHz Sabang
FM 97,3 MHz Jantho
FM 99,7 MHz Beureunuen
FM 91,9 MHz Langsa
FM 92,0 MHz Kutacane
FM 93,0 MHz Subulussalam
FM 90,5 MHz Tapaktuan
FM 92,0 MHz Sinabang
FM 97,5 FM Calang
FM 95,1 MHz Lamno

RADIO KOMUNITAS ACEH
*GISA FM - 107,8 Mhz (Aceh Utara)
*LINA FM - 107,9 Mhz (Bireun)
*Dewantara FM-107,7 Mhz (Aceh Utara)
*Gurita Fm 107, 7 Mhz (Aceh Selatan)
*Simpati FM 107,9 Mhz (Muulaboh)



Baca Selengkapnya....!!
Minggu, 06 Mei 2012

Peranan, Fungsi & Keuntungan Radio


Peranan, Fungsi Radio dalam Kehidupan Sehari-hari


dalam kehidupan sehari hari digunakan sebagai sarana penyampai informasi. Suara yang kita dengar dari pesawat radio merupakan perubahan bentuk energi elektromagnetik dari gelombang radio yang ditangkap oleh pesawat radio, kemudian diubah melalui loudspeaker (pengeras suara) menjadi energi bunyi sehingga bisa kita dengar.
Suara yang kita dengar dari pesawat radio bisa berisi tentang hiburan, misalnya musik, humor serta berita dan berbagai informasi lainnya. Jadi penyebutan istilah RADIO pada umumnya masih rancu. Pengertian pertama adalah: alat/pesawat untuk mengubah gelombang radio menjadi gelombang bunyi/suara. Sedang pengertian lainnya adalah gelombang yang merupakan bagian dari gelombang elektromagnetik.

Keuntungan dari Radio

Dapat menjangkau hampir seluruh warga negara dalam masyarakat, setiap waktu, setiap tempat, dan melibatkan siapa saja (bahkan orang buta huruf) serta di mana saja.Pendengar tidak harus tetap berada di depan pesawat radionya, tidak seperti halnya menonton televisi.
Ini berarti mendengarkan dapat dilakukan sembari melakukan hal-hal lainnya, berpindah tempat, tetapi harus tetap dengan konsentrasi tinggi. Hal ini berarti lebih banyak waktu yang dapat digunakan untuk mengerjakan hal-hal lainnya, sambil dapat mendengarkan/ menikmati suaranya. Ini juga berarti bahwa makin banyak pendengar yang dapat dijangkau sementara mereka masih tetap dapat bekerja sesuai tanggung jawab pekerjaannya.
Radio adalah media elektronik termurah, baik pemancar maupun penerimanya. Ini berarti terdapat ruang untuk lebih banyak stasiun penyiaran dan lebih banyak pesawat penerima dalam sebuah perekonomian nasional. Dibandingkan dengan media lain, biaya yang rendah sama artinya dengan akses kepada pendengar yang lebih besar dan jangkauan lebih luas dari radio. (DARI BERBAGAI SUMBER)
Baca Selengkapnya....!!
Kamis, 12 April 2012

Isu Strategis Pembangunan Daerah

 
Isu Strategis Pembangunan Daerah Yang Harus Diselesaikan 
 
1. Perlu disusunnya Strategi Pengembangan Wilayah yang dapat menciptakan sinergi antarwilayah, antarsektor dan antar pelaku, sehingga dapat memberikan hasil-hasil yang efektif bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat dan lingkungannya.
2.  Belum meratanya dukungan infrastruktur yang meliputi transportasi, ketenagalistrikan, energi, pos, telekomunikasi dan informatika, sumber daya air, perumahan, pelayanan air minum, serta penyehatan lingkungan. Pembangunan infrastruktur di masa mendatang dihadapkan pada keterbatasan kemampuan anggaran pemerintah. Untuk sebagian infrastruktur, pemerintah masih bertanggungjawab terhadap pembangunan dan pemeliharaannya. Namun, penyediaan dan pembangunan beberapa jenis infrastruktur sebenarnya juga dapat dilakukan sepenuhnya oleh swasta, seperti jalan tol, bandar udara komersial, pelabuhan samudera, pembangkit tenaga listrik, dan telekomunikasi.
3.  Masih banyak daerah yang masih tertinggal pembangunannya. Masyarakat yang berada di daerah tertinggal pada umumnya masih belum banyak tersentuh oleh program pembangunan, sehingga akses terhadap pelayanan sosial, ekonomi dan politik masih sangat terbatas. Oleh karena itu, kesejahteraan kelompok masyarakat yang hidup di wilayah tertinggal memerlukan perhatian dan keberpihakan pembangunan yang besar dari pemerintah. 
4.  Belum Optimalnya Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Persepsi yang belum sama antar pelaku pembangunan baik di jajaran pemerintah pusat , pemerintah daerah, dan para pelaku pembangunan lainnya telah menimbulkan berbagai permasalahan dalam penyelengaraan pemerintahan.
5.  Belum Efektif dan Efisiennya Penyelenggaraan Kelembagaan Pemerintah Daerah. Struktur organisasi pemerintah daerah umumnya masih besar dan saling tumpang tindih. Selain itu, prasarana dan sarana pemerintahan masih minim dan pelaksanaan standar pelayanan minimum belum mantab. Hubungan kerja antar lembaga, termasuk antar pemerintah daerah juga masih belum optimal. Keterbatasan ketersediaan aparatur pemerintah daerah, baik dari segi jumlah, profesionalisme serta kesejahteraan yang terbatas menyebabakan tidak optimalnya pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat. Dari sisi keuangan daerah, ditunjukkan dengan masih terbatasnya efektivitas, efisiensi dan optimalisasi pemanfaatan sumber-sumber penerimaan daerah, belum efisiennya prioritas alokasi belanja daerah secara proporsional, sert terbatasnya kemapuan pengelolaan termasuk dalam melaksanakan prisip transaparansi dan akuntabilitas, serta profesionalisme.
6. Terbatasnya ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas dan profesional, terbatasnya sumber-sumber pembiayaan yang memadai, baik yang berasal dari kemampuan daerah itu sendiri (internal) maupun sumber dana dari luar daerah (eksternal), belum tersusunnya kelembagaan yang efektif, belum terbangunnya sistem dan regulasi yang jelas dan tegas, serta kurangnya kreativitas dan partisipasi masyarakat secara lebih kritis dan rasional.
7.  Ketidakseimbangan Pertumbuhan Antar Kota-Kota Besar, Menengah dan Kecil. Pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan saat ini masih terlalu terpusat di pulau Jawa-Bali, sedangkan pertumbuhan kota-kota menengah dan kecil, terutama di luar Jawa, berjalan lambat dan tertinggal. Pertumbuhan perkotaan yang tidak seimbang ini ditambah dengan adanya kesenjangan pembangunan antarwilayah menimbilkan urbanisasi yang tidak terkendali.
8.  Lemahnya Koordinasi Lintas Bidang Dalam Pengembangan Kawasan Perdesaan. Pembangunan perdesaan secara terpadu akan melibatkan banyak  elemen masyarakat. Di pihak pemerintah, koordinasi sangat diperlukan untuk menjamin keterpaduan antar sektor serta pelaksanaan desentralisasi yang memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah. Lemahnya koordinasi mengakibatkan tidak efisiennya pemanfaatan sumber daya pembangunan yang terbatas jumlahnya, baik karena tumpang tindihnya kegiatan maupun karena tidak terjalinnya sinergi antar kegiatan.
9.  Rendahnya pemanfaatan rencana tata ruang sebagai acuan koordinasi pembangunan lintas sektor dan wilayah. Pembangunan yang dilakukan di suatu wilayah saat ini masih sering dilakukan tanpa mempertimbangkan keberlanjutannya sehingga degradasi lingkungan banyak terjadi. Selain itu sistem pengelolaan pertanahan yang ada juga kurang optimal, padahal pengelolaan pertanahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penataan ruang. Oleh karena itu, perlu adanya perencanaan tata ruang sebagai acuan koordinasi, keberlanjutan kelestarian alam serta efektifitas dan efisiensi penggunaan sumber daya alam.
Baca Selengkapnya....!!
Rabu, 28 Maret 2012

Makam Cut Nyak Meutia Kurang Tak Terawarat


“Rencananya Dipugar”

ACEH UTARA- Makam Cut Nyak Meutia yang berada Gampong Leubok Tilam, Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara, selama ini kurang tersentuh perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah Aceh.

Namun, jika dibandingkan pemugaran dengan makam-makan para pahlawan lainnya di luar Aceh, jauh tertinggal Makam Cut Nyak Meutia. Seharusnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara dan Pemerintah Aceh serta Pemerintah Pusat, dapat membangun makam selayak mungkin.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Utara, Drs. Ishak Ali Basyah, S.Pd, saat dikonfirmasi Rakyat Aceh, kemarin, mengatakan, kedepan pihaknya akan terus berupaya untuk melakukan pemugaran terhadap Komplek dan Makam Cut Nyak Meutia. “ Kita juga sudah mengirimkan surat Bupati Aceh Utara, yang ditujukan kepada Gubernur Aceh, untuk permohonan pembangunan/pemugaran Makam Cut Nyak Meutia,”ucap Ishak Ali Basyah.

Sebut dia, berdasarkan hasil seminar Raya Menyosong 100 tahun Syahidnya Cut Nyak Meutia, merekomendasikan beberapa hal diantaranya, melakukan pemugaran dan pembangunan serta penataan Komplek Makam Cut Nyak Meutia yang berlokasi di hulu sungai Peuto, Kecamatan Cot Girek Aceh Utara.

Dimana, Pemkab Aceh Utara pada tahun 2007 dan 2008 telah membuka akses menuju ke Komplek Makam Cut Nyak Meutia, dengan pengerasan jalan dan pembangunan jembatan penghubung. “Seiring dengan itu, kami sudah membuat design /RAB melalui jasa konsultasi perencanaan yang merupakan tindak lanjut dari hasil seminar tersebut. Jadi ada beberapa atiem yang harus dibangun, seperti, bangunan Makam Cut Nyak Meutia yang layak, Bangunan Seuramoe Cut Nyak Meutia, Bangun Tangga menuju makan dan talud serta membangun MCK,”imbuhnya.

Lanjut dia, total dana yang diusulkan untuk membangun empat atiem tersebut mencapai Rp 816.800.000. Namun, itu semua sangat tergantung kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh, untuk mengwujudkan rencana pemugaran Makam Cut Nyak Meutia, di Kabupaten Aceh Utara, dalam tahun 2010 ini. (arm)
Baca Selengkapnya....!!

Gubernur Aceh Akan Buka Event Sepeda Wisata 2009

ACEH UTARA- Gubernur Aceh, Drh. Irwandi Yusuf, direncanakan akan membuka secara resmi even sepeda wisata tahun 2009, dilapangan bola kaki Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, Sabtu (24/10) mendatang.

Sementara peserta yang akan mengikuti even tersebut, ditargetkan berjumlah 800 peserta, terdiri peserta dari Kabupaten/Kota Se- Provinsi Aceh, 69 orang, siswa sekolah di Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, 400 orang, pegawai negeri sipil (PNS) 200 orang dan masyarakat luas 131 orang.

Kegiatan itu diselenggarakan oleh Pemerintah Aceh, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara serta Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabutpar).

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabutpar) Aceh Utara, Ishak Alibasyah,S.Pd, saat dikonfirmasi Rakyat Aceh, kemarin.Dia mengatakan, wisata sepeda merupakan, tindakan stategis yang dilatar belakangi oleh suatu keinginan Pemerintah dan masyarakat, untuk memperkenalkan objek wisata budaya dan religius Aceh Utara kepada masyarakat luas. Apalagi, keberadaan objek ini merupakan sisi peningkatan pendapatan masyarakat serta pelestarian sejarah kejayaan Islam di Asia Tenggara Abad XIII silam.

“Jadi star sepeda wisata ini akan dimulai dari lapangan bola kaki, Kecamatan Syamtalira Bayu, dan finisnya di depan Makam Sulthan Malikussaleh, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, dengan jarak tempuh perjalanan antara 5 hingga 6 kilometer,”ucap Ishak Alibasyah.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Drs. H. Mirzan Fuadi, MM, saat dikonfirmasi wartawan koran ini, juga mengatakan, kegiatan even sepeda wisata baru yang pertama kali diselenggarakan di Provinsi Aceh. Bahkan, kegiatan itu juga merupakan program daripada Gubernur Aceh, untuk memperkenalkan tentang budaya dan sejarah kejayaan Islam di Asia Tenggara.

“Untuk tahun ini acara tersebut, kita pusatkan di Kabupaten Aceh Utara sebagai tuan rumah yang diikuti oleh Kabupaten/Kota lainnya di Provinsi Aceh. Semoga even sepeda wisata dapat berlangsung dengan lancar tanpa adanya kendala yang berarti nantinya,”ungkap Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

Disisi lain, Kepala Disporabutpar Aceh Utara, Ishak Alibasyah,S.Pd, pagi kemarin, juga menyerahkan satu unit sepeda kepada Danrem 011/Lilawangsa Lhokseumawe, Kolonel Inf. Bachtiar S.IP beserta 100 buah baju peserta untuk ikut tampil dalam even sepeda wisata tahun 2009. (arm)
Baca Selengkapnya....!!

Santri Aceh Adakan Haul ke-4 Rassa di Aceh Barat

LHOKSEUMAWE - Ratusan ulama beserta santri dayah dari seluruh Aceh, dijadwalkan akan hadir pada peringatan ulang tahun (haul) ke-4 Rabithah Silaturrahmi Santri se Aceh (Rassa), di Dayah Darul Hikmah Gampong Peunaga Rayeuk, Kecamatan Meurbo Aceh Barat, Sabtu (29/1) mendatang. Kegiatan itu akan dirangkai dengan “Kajian Islam Tingkat Tinggi Ulama ban Sigom Aceh.”

Hal itu diungkap Ketua Umum Rabithah Silaturrahmi Santri se Aceh (Rassa) Tgk H Zulkifli Juned, kepada Serambi di Lhokseumawe, Sabtu (22/1). Tgk Zulkifli  menyebutkan, dalam muzakarah yang akan dihadiri sejumlah terkemuka Aceh itu, Abuya Prof Dr Tgk H Muhibuddin Waly dijadwalkan akan bertindak sebagai, dan Tgk H M Amin Blang Badeh (Abu Tumin) sebagai pembanding.

“Kami gelar pertemuan ini dengan tujuan mempersatukan santri dayah dan mengadakan pertemuan Ulama di seluruh Aceh, tidak ada unsur politik dalam pilkada,” ujar Zulkifli yang diiyakan Tgk H Hasballah Ali (Abu Dikeutapang) dan Tgk H Ramli Bin Cut (Abati Babah Buloh).

Surat undangan panitia, tambah Tgk Zulkifli, telah disebarluaskan ke seluruh  Aceh sejak dua pekan lalu. Bahkan, sejumlah dayah di beberapa kabupaten/kota telah memberikan jumlah santri yang hadir. “Sesuai data yang telah diterima, sekitar 15 ribu santri seluruh Aceh, sudah memberikan jawaban akan hadir. Aceh Utara saja sudah ada 200 mobil akan berangkat ke Aceh Barat,” ujarnya.

Muzakarah Ulama dalam kesempatan Haul IV Rassa juga dijadwalkan akan dihadiri Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, serta sejumlah pejabat lainnya. “Diharapkan kepada seluruh masyarakat Aceh dapat memberikan doa agar Haul ke-4 Rassa berjalan lancar,” ungkap Tgk Zulkifli Juned.

Sementara itu, Tgk H Ramli Bin Cut (Abati Babah Buloh) dan Abu di Keutapang, menegaskan bahwa Haul ke-4 Rassa ini tidak ada kaitan dengan pemilukada. Ia memastikan panitia tidak menyebarkan undangan atasnama tokoh politik mau pun partai politik. Karenanya, kedua ulama kharismatik Aceh Utara ini meminta para tokoh yang hadir nantinya ke lokasi acara, tidak membawa-bawa masalah politik. “Jangan coba-coba menggiring santri ke pentas politik,” tegas Abati.(ib)
Baca Selengkapnya....!!

Abu Cot Kuta

Tgk. Abu bakar bin Muhammad Ali lahir di desa Babah Buloh. Tahun kelahiran beliau tidak diketahui secara pasti, tapi menurut perkiraan beliau lahir dipenghujung abad 19. Ayah beliau berasal dari Meunasah Paloh wilayah Zelfbestuur Keureuto, sekarang berada di kecamatan Tanah pasir kabupaten Aceh Utara,
Sebagai seorang pandai besi ayah beliau biasa disapa Utoh Ali dan sering berkeliling ke berbagai daerah untuk menjual hasil kerajinannya. Seringnya beliau berjualan di Krueng Mane yang pada waktu itu masih berada di bawah Zelfbestuur Sawang, sehingga beliau berkenalan dengan Ampon Lutan (Ulee Balang Krueng Mane).
Dalam satu dialoq Ampon Lutan berkata “anda jangan lagi berjualan kesini”, Utoh Ali bertanya: “apakah tidak boleh saya berjualan di negri tuan?” Ampon Lutan menjawab: “bukan tidak boleh, tapi tinggal disini saja”, Utoh Ali berkata: “asal ada tempat yang cocok, saya mau menetap dinegri tuan”. Maka Ampon Lutan meminta kepada adiknya yaitu Ampon Ubit untuk mencarikan tanah untuk tempat menetap Utoh Ali. Ampon Ubit pun memanggil petua Gampong Teungoh untuk menempatkan Utoh Ali di Cot Kuta yaitu nama sebuah gundukan tanah di desa Babah Buloh wilayah Sawang. Kemudian hijrahlah Utoh Ali ke Cot Kuta. Utoh Ali mempunyai dua orang istri, dari istri yang pertama yang berasal dari Cot Jabet - Gandapura dianugerahi tiga orang anak:1. Tgk Abu Bakar (Abu Cot Kuta)
2. Tgk Majid
3. Cut Aisyah
dari istri yang kedua juga dianugerahi tiga orang anak:
1. Tgk Syamaun
2. Cut Hawiyah
3. Tgk. M. Yusuf

Tgk Abubakar kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, sehingga beliau bersekolah Cuma seperdua masa belajar murid yang lain. Beliau bersekolah enam bulan kemudian diliburkan selama enam bulan, karena beliau sudah menguasai seluruh materi pelajaran dalam waktu singkat. Setelah tamat volkschool di Krueng Mane beliau mengaji ke dayah Tgk Ahmad Pulo Reudeup (Tgk di Lampoh, meninggal Nofember 1982) di Peusangan. Setelah merasa cukup mengecap pendidikan Dayah, beliau menikah dengan seorang gadis di daerahnya. Tapi setelah melahirkan seorang putra disaat umur bayi baru 15 hari sang istripun berpulang ke rahmatillah, bayi tersebut diberi nama Tgk Hasan (lahir Rabu 4 Syakban 1349H / 24 Desember 1930) dan dititipkan kepada adik beliau Cut Hawiyah. Kemahiran beliau dalam mengarang syair merupakan alasan mengapa beliau sering menjadi syekh kesenian tradisional Meuseukat (sejenis Rapa-i geleng), hal tersebut membuat ayah beliau marah, sehingga Utoh Ali mengancam anaknya untuk mengaji lagi hingga Alim, kalau tidak alim tidak boleh pulang. Maka merantaulah Tgk Abubakar ke Samalanga untuk mengaji di dayah Tgk Idris Tanjongan (kakek buyut dari Tu Subhiah, istri ayah Cot Trueng), beliau menetap di Samalanga 17 Rabiul Akhir 1350 / 1 September 1931. Pada waktu itu Tgk Idris sudah uzur, sehingga Tgk Abubakar cuma membacakan kitab sedangkan Tgk Idris menyimaknya dipembaringan. Karena Tgk Abubakar sudah pernah mengaji sebelum ke Samalanga maka secara otomatis beliau menjadi guru pembantu (teungku rangkang) bagi gurunya. Setelah beberapa lama beliau menjadi teungku rangkang beliaupun mempersunting Cut Saudah binti Sabi (meninggal 13 Juni 1986) di Samalanga, dari perkawinan tersebut beliau memperoleh tiga orang anak:

1. Cut Habsah ( lahir Minggu 4 Ramadhan 1352 / 21 Desember 1933 di Samalanga merupakan ibunda dari Tgk H M Amin bin M. Daud “Ayah Cot Trueng”)
2. Tgk Husein ( lahir Senin 10 Jumadil Akhir 1354 / 8 September 1935 di Cot Seurani - Krueng Mane, sempat mengaji ke Krueng Kalee Aceh Besar dan ke Jaho Sumatra Barat, meninggal 24 Rabiul Akhir 1374 / 21 Desember 1954)
3. Cut Halimah ( lahir Sabtu 4 Jumadil Akhir 1360 / 29 Juni 1941 di Cot Seurani - Krueng Mane, meninggal Oktober 2001)

Ampon Lutan ingin menempatkan seorang qadhi yang “cakap” di Krueng Mane, beliau bermusyawarah dengan adiknya yaitu Ampon Ubit mengenai siapa yang akan di jadikan sebagai qadhi. Maka Ampon Ubit mengusulkan untuk menjemput Tgk Abubakar di Samalanga. Maka Ampon Lutan menemui Ampon Chik Samalanga untuk meminta izin menjemput Tgk Abubakar yang sudah menjadi ulama di Samalanga, Ampon Chik di Samalanga pun mengizinkannya. Untuk membuktikan kepiawan Tgk Abubakar sebagai seorang ulama maka Ampon Lutan mengadakan perdebatan agama antara Tgk Abubakar dengan ulama setempat, mungkin pada tahun 1934. setelah terbukti ke”cakapan” Tgk Abubakar, Ampon Lutan pun menempatkan Tgk Abubakar sebagai Qadhi di krueng Mane serta membuka dayah di mesjid Krueng Mane (sekarang mesjid tua Krueng Mane di Cot Seurani). Maka terkenallah sebuah dayah salafi di sekitar Lhokseumawe yang dikunjungi oleh santri dari berbagai daerah di Aceh. Menurut Prof Dr Mahmud Yunus dalam buku Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia halaman:176, dayah Tgk Abu Bakar Cot Kuta di Lhokseumawe merupakan salah satu dayah dizaman pembaharuan yang masyhur. Tapi walaupun berada dizaman pembaharuan Tgk Abubakar masih menganut sistim lama, yaitu mengaji dengan cara menamatkan kitab satu persatu tanpa mengenal kelas dan kurikulum yang teratur sebagaimana sekarang. Sebagaimana adat di Aceh seorang ulama biasa dipanggil dengan “Abu” serta merangkaikan nama kampung dibelakang namanya, maka terkenallah beliau dengan Abu Cot Kuta. Murid beliau yang terkenal selama di Krueng Mane diantaranya Tgk Sulaiman (Abu Lhoksukon) dan Kiyai Hamid Paya Rabo.

Pemberontakan Tgk Abdul Jalil Cot Plieng Bayu terhadap Jepang membuat Jepang curiga terhadap dayah- dayah di Aceh dan melakukan sweeping sehingga banyak dayah yang sepi, begitu pula dayah Abu Cot Kuta. Pada suatu sweeping tentara Jepang pernah menanyakan “apakah kitab yang diajarkan oleh Abu Cot Plieng sama dengan yang diajarkan disini?” Abu Cot Kuta menjawab “tidak sama, yang diajarkan disana kitab kuning, sedangkan disini tidak seberapa kuning”. Kisah tragis peristiwa Perang Cumbok (1945 - 1946) yang berimbas kepada pembantaian para Uleebalang di kebanyakan daerah di Aceh, juga ikut menimpa Ampon Lutan membuat Abu Cot Kuta tidak betah lagi menetap di Krueng Manee. Maka atas inisiatif Tgk Yahya (pimpinan Dayah Nashrul Mutha’allimin Ie Rhot Ulee Madon, Muara Batu) meminta kepada pemuka-pemuka kemesjidan Cot Trueng untuk membujuk Abu Cot Kuta agar mau pindah ke mesjid Cot Trueng, gayungpun bersambut, Abu Cot Kuta menyanggupinya. Maka hijrahlah Abu Cot Kuta ke mesjid Cot Trueng pada tahun 1946, tapi beliau tidak mengizinkan dulu untuk mendirikan balai-balai sebagaimana layaknya sebuah dayah. Beliau Cuma mengajar di mesjid (sekarang “Mesjid Tuha” didirikan oleh Teungku Bentara Keumangan thn 1823 M) dan di balai bekas mesjid lama (sekarang “Balee Pusaka” didirikan tahun 1823 M), setelah beberapa bulan beliau menetap di Cot Trueng maka didirikanlah balai yang berkamar (sekarang Balee Puteh). Setelah situasi dianggap cocok maka pada tahun 1946 beliau meresmikan Dayah Raudhatul Ma’arif di mesjid Al-Akmal desa Cot Trueng kecamatan Muara Batu kabupaten Aceh Utara. Untuk ukuran masa tersebut jumlah murid yang mencapai 150 orang merupakan jumlah yang banyak, sehingga dayah Cot Trueng merupakan dayah yang maju dimasa itu. Diantara murid-murid beliau yang terkenal selama di Cot Trueng ialah Tgk Syafii Aron, Tgk M.Isa Peurupok dll.

Keterlibatan Abu Cot Kuta dalam dunia politik di mulai semenjak seruan Tgk M. Hasan (Abu Krueng Kalee) agar ulama dayah tergabung dalam PERTI (Persatuan Tarbiah Islam). Keaktifan beliau dalam PERTI sejak tahun 1957 hingga 1969, beliau merupakan ketua PERTI anak cabang (ranting) Muara Batu, sekaligus penasehat PERTI kabupaten.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”, Allah telah memanggil Abu Cot Kuta kehadiratnya pada hari Minggu 16 Nofember 1969 M / 6 Ramadhan 1389 H jam 11.00 pagi. Tidak ada yang tahu dengan pasti berapa umur beliau disaat meninggal, tapi menurut perkiraan orang tua di Cot Trueng usia beliau ketika itu sekitar 70 tahun atau bahkan mungkin lebih. Nama yang harum telah diukir oleh Abu Cot Kuta khususnya bagi masyarakat kecamatan Muara Batu karena semenjak tahun 30an hingga 1969 beliau merupakan lampu penerang umat sekaligus sebagai qadhi di kecamatan Muara Batu. Semoga arwah beliau selalu dalam limpahan rahmat Allah. Amien Ya Rabbal ‘Alamin.

Ditulis Oleh : Tgk Zulfahmi MR
Staff Pengajar Dayah Raudhatul Ma’arif Cot Trueng
Berdasarkan Wawancara Dengan Utoh Hasan Cot Trueng dan Tgk Abdul Jalil Glee Dagang (menantu Abu Cot Kuta).
Baca Selengkapnya....!!

TRANSLATE

SLIDESHOW

RADIO PATNER

TAMU ONLINE

CREW GISA FM

how to make an animated gif

STUDIO LUAR GISA FM

PHOTO EDP

About Me

Foto Saya
radio gisa fm aceh utara
Babah Buloh, Sawang Kab. Aceh Uta, Indonesia
Indah Dalam Sajian,Bermakna Dalam Ingatan
Lihat profil lengkapku

TAYANG WEB

internet statistics

free counters

FOLLOWERS